Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

2 Apr 2012

Vigilate et Orate


Ada 2 ekor kelelawar penghisap darah yang sedang berbincang-bincang dalam sebuah goa, sambil menantikan kelelawar pemilik goa itu.. Kelelawar yang satu bertanya, "Hey bejo, kemana sih si wayan, koq dia lama banget, gue udah laper banget nih".. Dan si bejo menjawab, "Mas ucok sabar aja, sebentar lagi wayan pulang bawa darah buat kita".. Rupanya kedua kelelawar itu sedang menantikan sajian darah dari tuan rumah yang kebetulan kelelawar vegetarian.. 

Setelah hampir 1 jam menunggu, si kelelawar batak semakin gelisah, akhirnya dia memutuskan pergi keluar untuk mencari makanannya sendiri, dan kurang dari 5 menit kemudian kelelawar batak itu sudah kembali lagi, dengan mulut yang penuh dengan darah.. Si bejo terperangah seraya bertanya, "Wah mas ucok hebat banget, si wayan nyari dari 1 jam lalu masih belum pulang juga, koq mas ucok cepat sekali dapatnya, bagaimana caranya..??".. Dengan sigap ucok menjawab, "gampang koq, elu lihat khan jembatan yang di depan itu".. Dan sahut bejo, "Iya mas, saya lihat jembatannya, jadi di sana ada banyak darah ya.?".. Jawab ucok, "Iya, tadi gue nabrak jembatan itu, lihat nih bibir gue sampe bonyok begini..!!".. Dan gerutu ucok lagi, "Elu jilat aja yang di jembatan sana, jangan yang di bibir gue **!?!?"..

Moral dari cerita tersebut, apabila kamu kehilangan kendali diri, maka bersiap-siaplah membentur tembok penghalangmu sendiri.. Karena yang sesungguhnya hilang darimu bukan hanya tali kekang, melainkan juga "sang pengendali" yang ada padamu.. Sebab apalah arti tali kekang bila tidak takluk dalam kendali.? Dan, bukankah sang kusir yang lebih mengenal arah tujuan dari pada sang kuda..?

Oleh karena itu, waspadalah terhadap hasratmu, sebab ia adalah kuda penggerak roda kehidupanmu, namun ia pula yang dapat membuatmu tersesat.. Butuh kebijaksanaan sang kusir untuk melekatkan tali kekang dengan tepat, agar dapat mengarahkan laju pedati dengan baik, dan selamat sampai di tujuan.. Sebab sesungguhnya "sang pengendali" dan tali kekang itu adalah jiwa dan imanmu sendiri..

Mungkin ada baiknya bagimu untuk selalu mengingat pesan Sang Guru, "Vigilate et Orate" (berjaga-jagalah dan berdoalah), supaya kamu tidak jatuh ke dalam cobaan, sebab "roh" memanglah penurut, namun dagingmu terlalu lemah untuk menolak godaan (Mc 14:38)..

Berjaga-jagalah dan berdoalah selalu..

6 Feb 2012

Confessio

Terlambat aku mencintai-Mu, oh Keindahan kekal yang selalu baru.. 

Kusadari, Engkau selalu hadir di dalam, dan aku ada di luar kehadiran-Mu.. Engkau selalu hadir namun kuabaikan, karena aku selalu mencari-Mu di dalam keindahan ciptaan-Mu.. Aku terpisah jauh dari kehadiran-Mu, karena kesengsem oleh karya cipta-Mu.. Engkau terus memanggil, menembusi ketulianku.. Engkau memancarkan cahaya terang-Mu, yang melebihi terang matahari hingga membutakan aku.. Engkau menebarkan keharuman yang kuhirup disetiap nafasku.. Aku  mencicipi dan mengenyam kehadiran-Mu, namun aku selalu mengeluh lapar dan haus.. Engkau telah menjamahku, dan diriku dikobarkan oleh kerinduan akan kedamaian-Mu..

Terlambat aku mencintai-Mu, oh Keindahan kekal yang selalu baru.. 

Kucari wajah-Mu, dimana Engkau bersembunyi oh kekasih jiwaku.. Engkau yang bertahta dalam Puri batinku, yang Engkau bangun untuk persemayaman-Mu.. Tak dapat kubayangkan kehadiran-Mu yang cemerlang.. Aku telusuri batinku, ingatanku dan aku menemukan pintu masuk ke dalam Puri cahaya-Mu.. Setiapkali aku mengenang-Mu, Engkau telah menunggu di sana, karena Engkau sumber dari segala peristiwa hidup, asal usul semua yang telah terjadi.. Dalam ingatan masa lampauku, dalam ingatan segala mahkluk, kutemui Engkau, oh Keindahan kekal yang selalu baru..

Engkau menuntun diriku menemui kebenaran sejati melalui ingatan, "Pada  mulanya adalah "Kata", "Kata" itu bersama-sama dengan Keindahan kekal yang selalu baru, "Kata" itu adalah "Aku".. Dalam "Aku"-Mu ada hidup dan hidup itu adalah terang jiwaku.. Dan kini, "Kata" itu telah menjadi kekasih jiwaku.."

30 Agu 2011

Qui Habet Aures Audiendi Audiat..!

Seorang karyawan datang bersama rekan sekerjanya, dan bertanya kepadaku, “mengapa boss-ku selalu mengatakan kepada semua orang bahwa gaji teman sekerjaku ini lebih tinggi dariku, padahal menurut pengakuannya tidak seperti itu”, “apakah boss-ku sudah tidak menyukai aku lagi ya..?”..

Aku menjawab dengan sederhana saja, “karena temanmu ini orang bodoh..”.. Karyawan itu spontan tertawa, dan teman sekerjanya tertegun mendengar perkataanku tadi, namun ia tetap diam sambil memandangku dengan senyuman kecut, dan menantikan reaksiku.. Aku diam saja, dan tak ingin perkataanku tadi dianggap sebagai kelakar saja.. Akan tetapi tertawaan karyawan itu sudah menjadi tanda yang menegaskan bahwa dirinya merasa lebih pandai, atau sekurang-kurangnya rekannya itu memang benar tidak lebih pandai darinya..

Lalu karyawan itu bertanya lagi, “tapi mengapa boss-ku bicara seperti itu kepada semua orang ya..?”.. Aku jawab lagi dengan sederhana, “karena boss-mu sama bodohnya dengan temanmu ini..!”.. Kali ini keduanya spontan tertawa mendengar jawabanku.. Tapi aku tetap diam saja..

Masih belum puas mencari jawab, karyawan itu bertanya lagi kepadaku, “jadi apa salahku sehingga boss-ku berbicara seperti itu kepada semua orang, sebab aku menjadi bahan ejekan semua orang karena gajiku lebih kecil darinya..?”.. Dan, spontan aku jawab, “karena kamu lebih bodoh dari pada boss dan temanmu ini..!!”.. Kali ini tidak hanya karyawan itu saja yang terdiam, tapi temannya pun ikut terdiam.. Suasana berubah menjadi hening..

Sekarang, aku yang tersenyum sendirian (tentunya hanya di dalam hatiku saja).. Aku tersenyum lega atas runtuhnya sikap “bebal”.. Sebab kini karyawan itu mulai merubah sikapnya, dari “pikiran perkasa yang mencari pertikaian”, berubah sikap menjadi “telinga ramah yang mencari kata yang harum”.. Kali ini dia “menyerah”, dan dia sudah siap untuk “mendengar”..

Tumpul, rahmat yang tersembunyi

Setelah beberapa saat, aku memecah keheningan dengan menjelaskan maksud jawabanku tadi..

Sesungguhnya yang jadi masalah bukan pada perkataan boss-mu, tapi masalahnya ada pada dirimu sendiri..! Sebab, tujuan boss-mu mengabarkan gaji temanmu yang lebih tinggi darimu, hanya untuk menjelaskan tentang ungkapan cintanya saja.. Supaya semua orang tahu, bahwa boss-mu menyayangi temanmu yang bodoh ini.. Itu saja, tidak lebih..

Penyebabnya, karena dia “bodoh”, maka dia dinilai hanya tahu apa adanya saja.. Artinya, pikirannya terlalu tumpul untuk bisa memanipulasi kenyataan.. Alias “jujur”.. Jadi intinya, alasan boss-mu menyayangi temanmu ini karena dia dinilai sebagai karyawan yang jujur.. Dan faktanya, siapa pun yang memiliki usaha, pasti tak ingin kehilangan karyawan yang jujur dalam karyanya.. Bukankah kejujuran sangat mahal harganya..??

Kali ini hanya temannya saja yang tersenyum lega, seakan sebutan “bodoh” yang berulang kali aku lekatkan padanya seperti lenyap tanpa bekas.. Dan baru disadarinya, ternyata boss-nya sangat mempercayai dirinya..

Ketajaman yang menyakitkan

Tapi justru sebaliknya, karyawan yang gelisah itu menatapku penuh curiga, seakan-akan aku sedang menempelkan label “tidak jujur” di dahinya..?? Tapi aku tak memperdulikan tatapan itu..

Lalu aku lanjutkan penjelasanku.. Sesungguhnya hanya satu hal saja yang menjadi sumber kobodohan boss-mu, yakni hanya “Ketakutan” saja.. Dan yang membuat boss-mu menjadi bodoh, bukan hanya ia takut kehilangan karyawan kepercayaan saja, tapi karena dia juga terlalu “pengecut” untuk mengatakan kepada semua orang, “jangan ganggu si bodoh ini, dia orang kepercayaanku..!!”, tapi dia mengatasi ketakutannya dengan caranya sendiri dalam bahasa yang unik, “aku menggaji dia lebih besar dari pada karyawanku yang pandai..”, padahal itu adalah sebuah kebohongan..! Sebab apabila boss-mu seorang yang pemberani, pasti dia tidak takut kehilangan karyawan yang bodoh.. Bukankah masih ada banyak orang bodoh di luar sana yang bisa dibodoh-bodohi olehnya..?? Spontan keduanya tertawa terpingkal-pingkal..

“Tapi kalau dibandingkan dengan kebodohan boss-mu”, lanjutku untuk menghentikan tawa mereka berdua.. Maka kebodohanmu sangat keterlaluan sekali, karena jika boss-mu rela membodohi dirinya dengan kebohongan, supaya ia tidak menyakiti “pendengaran” orang lain.. Tapi kamu malah rela dibodoh-bodohi oleh kebohongan dengan menyakiti “pendengaranmu” sendiri.. Ini sangat menyedihkan sekali..! Inilah masalahmu..

Maksudku, kamu memang tidak tuli, dan itu patut kamu syukuri, karena telingamu sudah bekerja dengan baik.. Tapi kamu belum bijaksana dalam “mendengar”, karena perkataan yang tidak ada kaitannya dengan dirimu, telah kamu olah sedemikian rupa hingga membuatmu menjadi gelisah.. Sekali lagi, ini bukan salah telingamu.. Tapi salah pikiranmu sendiri..!! Karena pikiranmu bekerja terlalu tajam, bahkan sebuah kebohongan pun tetap diasah dalam pikiranmu.. Makanya tak heran kalau ketajaman itu jadi menusuk dan menyakiti perasaanmu sendiri, dan tanpa kamu sadari, perasaan itu ikut menumbuhkan semak berduri di dalam pikiranmu, bahkan memaksamu mengasah pikiran lagi untuk menciptakan perlawanan terhadap rasa sakit yang kamu derita.. Intinya, kamu menderita oleh karena ketajamanmu sendiri..!

Nah, sekarang pulanglah.. Karena sesungguhnya tidak ada masalah dengan perkataan boss-mu, atau dengan gaji dan pekerjaanmu.. Tapi masalahnya justru karena kamu sering menikam jiwamu dengan ketajaman pikiran dan perasaanmu sendiri.. Nah, mulai sekarang tumpulkanlah pikiranmu agar tidak menusuk perasaanmu, dan tumpulkan juga perasaanmu agar kamu tidak mengasah pikiranmu lagi.. Gunakanlah pikiran dan perasaanmu sebatas diperlukan saja, jangan terlalu berlebihan..! Semoga kamu cepat sembuh dari kebiasaan menyakiti diri sendiri..

Lalu mereka pun pamit, dan pulang..


Qui habet aures audiendi audiat..!

Sepanjang kisah nyata tadi, aku terhanyut oleh ucapan syukur Sang Guru kepada Tuhan, yang bersukacita karena mengetahui rahasia “Kebenaran”..
“Aku bersyukur pada-Mu, Tuhan, langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”
Ucapan itu juga yang meyakinkan aku, bahwa karyawan yang jujur itu layak membawa pulang sukacita yang sama seperti sukacita Sang Guru, sebab dengan segala atribut kebersahajaan orang kecil dan bodoh yang melekat padanya, justru telah berbuah kebenaran akan cinta dan kepercayaan boss-nya untuk karya kehidupannya sendiri..

Sedangkan karyawan yang pandai itu, yang awalnya datang dengan membawa segala ketajaman pikir dan rasa untuk membuktikan kebenarannya, malah pulang dengan membawa bukti-bukti baru dari kesalahannya sendiri.. Sebab ia telah mengukur perkataan orang lain menurut ukuran ketajaman pikiran dan perasaannya sendiri, namun dengan ukuran ketajaman itu juga "Sang Kebenaran" mengukurkan kembali kepada dirinya sendiri, sehingga terbongkarlah bukti kebodohannya mengenai cara berpikir dan cara mengolah rasa dalam mendengarkan perkataan orang lain.. Sungguh ironis..!!

Mungkin ada baiknya bagi karyawan itu untuk merenungkan pesan ahli semiotika ini, agar kepandaian dan kepekaannya hanya cukup digunakan untuk mengenali tanda-tanda kebenaran saja, atau sekurang-kurangnya tidak harus membuat pikiran dan perasaannya bekerja untuk hal yang sia-sia..
“Perhaps the mission of those who love mankind is to make people laugh at the truth, to make truth laugh, because the only truth lies in learning to free ourselves from insane passion for the truth”
--Umberto Eco (The Name of the Rose)

Karena ternyata satu-satunya jalan untuk mengenali tanda-tanda kebenaran, hanya cukup dengan belajar membebaskan diri dari kegilaan atas hasrat untuk menemukan kebenaran.. Sebab yang sesungguhnya benar-benar nyata adalah, "manusia selalu sulit menerima kebenaran yang tidak sesuai dengan harapannya".. Termasuk juga dalam hal "mendengar"..

Dan akhirnya, sambil mengantarkan kedua karyawan itu pergi, aku mengulang kembali seruan Sang Guru, di dalam hatiku, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar..!” (lat: "Qui habet aures audiendi audiat..!" ~ Mt 13: 9).. Semoga engkau menanggapi dan memahami seruan "Kebenaran" itu, sobat..

17 Agu 2011

Felix dies natalis..

Hari ini, hari lahirmu..
Sudah berapa usiamu..?

Betapa cepat berlalu harimu..?
Hari ini, "pesan-ku" singkat saja..

"Persembahkanlah cintamu untuk sukacita-ku.."

Selamat hari lahir, anakku..
"Cinta-ku" sudah mendahului harimu, sayang..

-- (pesan Ibu Pertiwi untuk Anak Bangsa)

13 Agu 2011

Semper Reformanda



Tergelitik oleh status facebook seorang sahabat, yang berbicara tentang "apa yang dapat berubah, dan apa yang tak dapat berubah", membuatku tergerak untuk menyampaikan pesan lama yang telah dilupakan orang, yakni tentang kebijaksanaan untuk "mengenali" yang masih dapat dirubah, dan yang tidak dapat dirubah..

Dari status sahabat tadi, terungkap tanggapan-tanggapan yang cukup baik, namun seperti "telur dan ayam", semua menyatakan sisi pandangannya sendiri, tanpa memberi makna yang jelas. Ada yang berkata bahwa karakter manusia tidak dapat berubah, dan ada pula yg menanggapi bahwa nurani manusia selalu berubah, bahkan ada pula yang menyatakan bahwa ada banyak manusia yang tidak memiliki nurani lagi..?? (*untuk melindungi privasi, maka redaksi tidak dipublikasikan)

Singkatnya, pesan-pesan para sahabat itu berbicara tentang kemasan, sementara aku membawakan pesan yang bukan berbicara tentang “kemasan”, dan bukan juga tentang "isi" kemasan, melainkan tentang "inti" kemasan. Intinya, bukan tentang eksoteris, melainkan esoteris manusia. Karena sesungguhnya, manusia bukan hidup dari prinsip-prinsip atau karakter-karakter kepribadiannya, melainkan dari "sumber hidup". Seperti ada tertulis, "manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari Sabda Hidup" (Dt 8:3)..

Namun sayang, semuanya tidak menangkap makna dari pesan yang aku sampaikan, padahal pesan itu cukup sederhana saja, Semper Reformanda (latin; selalu mengikuti perubahan). Sebuah pesan yang menjiwai semangat mendiang Paus Yohanes XXIII untuk menjawab tantangan kekuatan komunisme di daratan eropa, serta membangkitkan semangat baru untuk menciptakan dunia yang lebih damai..!

Biji Benih, Refleksi Hidup


Bila kita bercermin dari entitas kehidupan di bumi, maka refleksi dari kehidupan biji benih yang tumbuh hingga menjadi pokok pohon yang besar, dapat menjadi ukuran minimal bagi kita untuk bisa memaknai pengertian tentang "inti". Karena ternyata yang terpenting bagi hidup biji benih itu bukanlah tentang "siapa yang menanam, atau siapa yang menyiraminya", melainkan "siapa yang mempertumbuhkannya". Bercermin dari ukuran yang terkecil ini, maka bisa kita pahami bahwa memang manusia bukan hidup hanya dari roti saja, melainkan dari Sang Sumber Hidup..


Ilustrasi-nya, apabila buah apel tidak mau merubah dirinya menjadi busuk, maka biji apel di dalam buah tidak memiliki kemampuan untuk menyerap sari pati daging dari buah, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Dan sudah barang tentu, biji benih itu juga tak memiliki kemampuan untuk menumbuhkan akar kehidupan bagi dirinya sendiri. Namun sebaliknya, bila buah apel mau merubah dirinya, maka kehidupan biji benih akan terus berlanjut menjadi tunas, lalu bertumbuh menjadi pokok pohon yang besar, dan seterusnya berkembang dan berbuah. Dan seterusnya demikian. Dengan kata lain, Sang Sumber Hidup telah memberikan daya cipta-Nya di dalam diri apel agar memiliki kemampuan untuk hidup, bertumbuh, berkembang dan berbuah, dan seterusnya menciptakan benih kehidupan yang baru..

Ilusi Pikiran dan Rasa


Nah, yang membedakan manusia dengan biji benih itu, hanyalah soal instrumen pikiran dan rasa saja. Kedua instrumen itu tidak ada pada biji benih. Tapi pada pengertian "inti" hidup, manusia dan biji benih sama-sama berasal dari sumber hidup yang sama, yakni Sang Mahapencipta..


Instrumen pikiran dan perasaan tersebut sangat berperan besar dalam mempengaruhi kehidupan manusia, dan melalui kedua instrumen itulah terbentuk berbagai karakter kepribadian manusia, seiring dengan interaksi kedua instrumen tersebut dengan daya "hasrat" dan pengalaman hidupnya masing-masing. Namun sayangnya sepanjang perjalanan pengalaman hidupnya, manusia selalu mengedepankan hasratnya saja dan kurang memiliki kesadaran dalam mengolah pikiran dan perasaannya untuk mengenali keberadaan "hasrat" itu sendiri, sehingga manusia mudah terjebak dalam problema hidup. Karena yang sering menjadi sumber masalah dalam pikiran dan perasaan manusia adalah sajian "hasrat" yang berbumbu "nafsu" dan "malu". Kedua bumbu makanan ini juga yang selalu menghalangi Sang Sumber Hidup untuk memberikan daya cipta-Nya dalam jiwa manusia..

Ilustrasi-nya, ketika manusia berhasrat ingin menguasai sesuatu, maka perasaannya akan memberi makan pikirannya dengan bumbu "nafsu" untuk memenuhi keinginannya itu. Dan ketika pikiran sedang mengolah menu "nafsu", maka perasaannya pun turut menikmati hasil olahan "nafsu" dari pikiran itu. Hasil interaksi antara pikiran dan perasaan yang saling memberi makan "nafsu" ini, akan berakumulasi pada bentuk emosi manusia. Namun seiring dengan perjalanan pengalaman hidupnya, proses interaksi itu mulai berubah menjadi sebuah kebiasaan, dan tanpa disadari bahwa emosinya pun turut terakumulasi dengan tajam, bahkan akibat intensitas akumulasi emosi tersebut manusia jadi kesulitan untuk menghentikan aktifitas pikiran dan perasaannya sendiri. Dan puncaknya selalu mengganggu kesadaran jiwanya, sehingga tak heran bila manusia sering memaksakan kehendaknya sendiri untuk memuaskan hasratnya (terutama hasrat seksualitas, kepemilikan, dan kehormatan). Inilah sumber masalah yang dibuat oleh manusia itu sendiri, hingga membuatnya menjadi lupa diri. Alias, sakit ingatan..!!

Begitu juga ketika manusia sedang mengecap hasrat "malu"-nya, maka pikiran akan menciptakan banyak dalih untuk mempertahankan kehormatannya, bahkan tak jarang menipu diri sendiri, atau pun menipu orang lain. Dan tak heran bila perasaan yang turut menikmati sajian "malu" itu, akan menciptakan ekspresi jiwa yang memalukan juga, atau sekurang-kurangnya menjadi manusia yang tak tahu malu. Seperti itulah manusia yang tersesat dalam permainan ilusi pikiran dan perasaannya sendiri.. 

Tapi yang paling menyedihkan, ketika manusia telah mengalami kebuntuan pikiran dan rasa, saat itu jiwa mulai kehilangan kendali atas pikiran dan perasaannya, bahkan kendali jati diri menjadi terpisah dengan kenyataan hidupnya. Ada yang menjadi depresif, atau ada juga yang terobsesi pada delusi (khayalan), bahkan ada yang larut hingga menciptakan karakter kepribadian yang bukan jati dirinya sendiri.. Alias, sakit jiwa..!!

Nurani, Pelita Hidup

Sesungguhnya pikiran dan rasa adalah instrumen terindah yang diberikan Sang Mahapencipta untuk insan ciptaan-Nya, agar manusia memiliki kemampuan untuk mengenali hidupnya, serta memperindah kehidupannya sendiri. Inilah yang membedakan manusia dengan tanaman atau pun binatang..


Namun sayangnya, manusia selalu "berlebihan" dalam menggunakan pikiran dan perasaannya, sehingga "hasrat" yang seharusnya dapat berdaya guna bagi kehidupannya, malah tak mampu memberikan kontribusi positif untuk jiwanya sendiri. Bahkan nurani (atau pelita hati) yang hidup dalam sanubari manusia pun tak mampu dikenali oleh kedua instrumen itu. Padahal nurani tercipta bukan semata-mata untuk kenyataan insani saja, melainkan untuk mewakili citra Ilahi dalam jiwa manusia. Artinya, oleh karena nurani itulah manusia tercipta menjadi pelita kehidupan untuk semesta ciptaan Ilahi. Atau dengan kata lain, nurani menjadi sumber terang kebijaksanaan Ilahi bagi manusia untuk memurnikan jiwanya dari kesesatan, agar manusia memiliki kecintaan untuk memelihara dan melindungi seluruh kehidupan ciptaan Ilahi dari kekacauan atau kehancuran, termasuk melindungi kehidupannya sendiri..

Ilustrasi-nya, nurani seorang ibu akan tetap mengatakan bayinya yang cacat adalah anaknya. Meski pikiran dan perasaannya dapat memaksakan mulut dan lidahnya berkata itu bukan anaknya, namun nuraninya tak mampu mengingkari bayi yang cacat itu adalah bukan anaknya. Seperti itulah nurani yang hidup di dalam sanubari manusia, dia hanya ingin mencintai dan tak ada yang diinginkannya lagi selain memberikan cinta saja. Ilustrasi lainnya, seorang buta yang berjalan dihadapanmu, hendak menyebrangi jalan raya yang ramai kendaraan. Kini jawablah dengan nuranimu sendiri..?

Semper Reformanda

Jadi sesungguhnya nurani merupakan sebuah energi kekuatan cinta yang bersumber dari Cinta Ilahi untuk hidup manusia, dan sangat berdaya cipta bagi kehidupannya. Namun nurani itu terlalu lembut untuk bisa mematikan kekuatan pikiran dan perasaan manusia, yang memiliki kemampuan menghancurkan kehidupannya. Sebab nurani hanya berpihak kepada kebenaran saja, dan bukan untuk kehancuran hidup manusia atau pun mengingkarinya. Oleh karenanya, nurani bukanlah sesuatu yang bersifat rigid, statis atau pun kaku tanpa perubahan sama sekali. Akan tetapi ia justru sangat dinamis, sangat hidup, bergerak terus dengan indah dan selalu setia mengikuti harmoni kehidupan manusia beserta seluruh semesta ciptaan Ilahi, dan hanya terarah untuk memelihara dan melindungi kelangsungan Cinta Ilahi kepada kehidupan ciptaan-Nya..

Inilah "inti" yang tak pernah berubah itu, yakni "keindahan hidup yang selalu tinggal tetap, kekal abadi, dan selalu berubah menjadi baru". Karena yang berubah hanyalah perubahannya saja. Seperti biji apel yang berubah menjadi tunas, dan tumbuh menjadi pohon yang menghasilkan buah kehidupan yang baru..

Maka itu, kapan pun dan di mana pun manusia berada, nurani akan selalu hadir mengikuti kenyataan semesta kehidupannya. Ketika manusia ingin menguasai yang bukan miliknya, nuraninya akan berkata "itu bukan untukmu". Atau ketika manusia menghadapi tembok penghalang hidupnya, maka nurani akan mengajaknya untuk “kembali ke jalan yang benar”, agar ia tidak "bernafsu" untuk membobol atau pun meratap "malu" di tembok penghalang itu..

Oleh sebab itu, gunakanlah pikiran dan perasaanmu sebatas diperlukan saja, jangan terlalu berlebihan, sahabatku..! Dan, kenalilah nuranimu..!! Hanya nuranimu yang mampu mengajarkan dirimu menjadi manusia yang peka akan kebenaran, serta merubah pikiran dan rasamu dari keinginan-keinginan yang bisa membuat hidupmu menjadi getir. Meskipun ia sering berseberangan dengan pikiran dan rasamu, namun percayalah pada pelita hatimu, karena ia berasal dari sumber hidupmu sendiri, yang akan membawamu pada kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidupmu sebagai insan ciptaan-Nya..

Dan ingatlah, bahwa setelah kematian dagingmu, sesungguhnya penjaga pintu surga tak pernah memperhitungkan kesalahanmu lagi, melainkan ia hanya menghitung “seberapa banyak perbuatan cinta yang telah engkau berikan bagi semesta kehidupanmu”. Hanya ukuran itu saja yang dapat membawa langkahmu berlanjut melampaui ambang pintu itu..

Sekali lagi, hanya nuranimu saja yang mampu membimbingmu untuk melakukan banyak perbuatan cinta, maka kenalilah nuranimu dan ikutilah dia. Itulah kekayaan hidupmu yang tak pernah berubah..! Dan ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun yang mampu merubah hidupmu, selain dirimu sendiri. Semper Reformanda, sahabatku..!!

Untuk menutup pesanku ini, aku ingin mengakhirinya dengan sebuah pesan nurani yang sangat indah dari Mother Teresa of Calcutta...

People are often unreasonable and self-centered. Forgive them anyway.

If you are kind, people may accuse you of ulterior motives. Be kind anyway.


If you are honest, people may cheat you. Be honest anyway.


If you find happiness, people may be jealous. Be happy anyway.


The good you today may be forgotten tomorrow. Do good anyway.


Give the world the best you have and it may never be enough. Give your best anyway.


For you see, in the end, it is between you and God. It was never between you and them anyway.

10 Agu 2011

Sitio..!

“Aku haus..!” (latin: Sitio), sebuah ungkapan sederhana yang bukan semata-mata ungkapan dahaga akan kesegaran rasa saja, namun sesungguhnya bermakna mendalam bagi setiap jiwa manusia, karena ungkapan inilah yang menjadi seruan utama setiap jiwa yang selalu gelisah pada suatu kerinduan yang tak tertahankan.. Singkatnya, jika ada sejuta kata yang terlontar dari mulut yang gelisah, maka sesungguhnya hanya satu pesan saja yang ingin disampaikan oleh jiwa yang merindu, “aku haus..!” .. Itu saja..

Seperti puisi “A Thirsty Fish” dari Maulana Jalaluddin Balkhi (Rumi), bagaikan ikan yang haus di tengah samudera, seperti itulah manusia yang haus akan sesuatu, namun ia tak pernah mengerti apa yang telah membuat jiwanya begitu berdahaga.. Dan yang lebih menyedihkan lagi, masih banyak manusia yang tak tahu apa yang dapat membuat dahaganya terpuaskan..??

Michael Foucault melukiskan jiwa-jiwa yang haus itu sebagai “stulti vera navis” (kebodohan sang nahkoda), singkatnya, ternyata ada banyak  jiwa yang dahaganya bagaikan manusia bodoh yang sinting dalam kegilaan hasratnya sendiri (“Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason”, 1961).. Sungguh menyedihkan..!!

Sekiranya masih ada jiwa yang ingin menemukan jawaban akan hasrat dahaganya, mungkin pesan dari sang Kabir ini dapat menjadi pijakan awal untuk menemukan pemuas dahaganya.. Semoga...

"I laugh when I hear that the fish in the water is thirsty.
You don't grasp the fact that what is most alive of all is inside your own house;
and you walk from one holy city to the next with a confused look!
Kabir will tell you the truth: go wherever you like, to Calcutta or Tibet;
if you can't find where your soul is hidden,
for you the world will never be real!"

— Kabir (The Kabir book: Forty-four of the ecstatic poems of Kabir)